Saturday, 25 February 2017

MEMBANGUN DAM PARIT UNTUK PERTANIAN

Dam Parit (saluran waduk) adalah teknologi sederhana yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor. Teknologi ini adalah cara untuk mengumpulkan / mengganggu aliran air ke dalam parit (drainase) untuk mengakomodasi volume aliran, sehingga selain dapat digunakan untuk mengairi tanah di sekitarnya juga dapat memperlambat aliran, Erosi dan sedimentasi ( tanah dan Agroklimat Penelitian, 2002). Dengan teknologi ini, sesuai dengan biaya pengalaman Rp. 30-50000000 per unit, dan pekerjaan ini membutuhkan staf sekitar 30 orang dalam pekerjaan 3 bulan, yang dapat dilakukan sendiri oleh petani. Penilaian dari parit proyek teknologi seleksi didasarkan pada keunggulannya dibandingkan dengan teknologi serupa seperti kolam. Ditch dam keunggulan, antara lain: untuk mengumpulkan air dalam volume besar, sekali sumber saluran / parit. 

Penggunaan non-daerah produktif. Lapang cukup untuk mengairi lahan karena dibangun dalam seri (cascade series) di baskom. Hal ini dimungkinkan untuk mengurangi limpasan, sehingga mengurangi erosi permukaan (tanah dari tanah yang subur), dan sedimentasi. Ada kemungkinan (waktu dan volume) menyerap air / toko dalam tubuh tanah (recharge) di seluruh cekungan, mengurangi risiko kekeringan di musim kemarau. 

Biaya yang relatif lebih murah dari manufaktur. Dalam melaksanakan utama parit rentetan tujuan teknologi ini, dan berfungsi untuk: Mengurangi laju aliran maksimum, debit terbesar terjadi di aliran. Biasanya, saat musim hujan, debit air ke parit / saluran sangat tinggi sehingga dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor dan erosi, dengan membawa tanah subur. Dengan pembangunan pemotongan bendungan parit dari sungai, aliran parit berkurang. Memperpanjang waktu respon, yaitu untuk memperpanjang interval waktu antara saat curah hujan maksimum dengan aliran maksimum. Dengan panjang air dipertahankan dalam baskom, kemudian bagian dari air untuk menyusup tanah untuk mebiuisi (recharge) cadangan air tanah dan bagian dari air dapat dibuang ke l; Ahan menuntut irigasi air air / tanah ia tidak pernah memiliki melalui parit. 

Di parit mulai nanti untuk bendungan / spillway lagi. Dan seterusnya, sehingga luas lahan yang bisa makan dapat dimaksimalkan. Dam Ditch: Dam Parit Ulasan Pertanian Outlook berharap. Sumber: 

Departemen PLA Deptan curah hujan sebagian besar Indonesia adalah lebih dari 2000 mm / tahun. Yang cukup dan potensi untuk pertanian dan hortikultura minus dua kali tanam dalam setahun. Tapi kuantitas tidak / belum dimanfaatkan dengan baik untuk keperluan pertanian, karena curah hujan yang jatuh sebagian besar sebagai limpasan. Aliran permukaan cukup tinggi, terutama selama musim hujan, yang sering menyebabkan banjir hilir dan erosi dan pencucian nutrisi di jalan dareah. Apalagi jika hujan terjadi dengan intensitas tinggi untuk waktu yang cukup dan terjadi dalam seri, aliran yang dihasilkan akan lebih besar. 

MEMBANGUN DAM PARIT UNTUK PERTANIAN


Berbeda dengan musim kemarau, ketersediaan air sangat terbatas dan bahkan jarang, sehingga bagian dari pertanian tadah hujan tidak dapat bertani (bera). Penurunan kondisi daerah dibudidayakan, memotong intensitas dan hasil tanah. Diharapkan bahwa parit teknologi dam (saluran waduk) untuk menggunakan shift kedua, kelebihan arus melalui tangki air (musim hujan) dan mendistribusikan kekurangan saat ini (musim kemarau). Dengan meningkatnya jumlah lahan yang bisa diairi, akan ada perubahan dalam jenis dan budidaya pola (untuk 2 kali tahun tanam), pola penggunaan lahan (beras dalam sekam, sayuran) dan komoditas (padi, jagung, kedelai, kacang tanah , sayuran dan buah-buahan buah), yang berarti meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani pertanian. 

Berdasarkan hasil Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Afrika Pertanian Badan Litbang DAS Bunder, DAS Oyo, Gunung Kidul, dan Kaji Sub-wilayah, DAS Penelitian Kali Garang, Semarang, bekerjasama dengan Teknologi Pertanian Research Center, Jawa Tengah menunjukkan bahwa tanaman menggali parit ini untuk mengurangi risiko banjir dan kekeringan juga dapat mengubah pola monokultur (singkong) setahun sekali menjadi multipple tanaman (padi-padi dan cabai), (2) meningkatkan intensitas budidaya, produksi dan produksi

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak karena setiap ketikkanmu mencerminkan kepribadianmu